Gugurnya Maha Guru Drona Menurut Pewayangan Jawa
Malam hari Maha Guru Drona kembali ke pesanggrahan Bulupitu bersama Aswatama dan Sangkuni. Setelah merundingkan segala sesuatunya, Drona berpesan kepada Aswatama agar tidak maju perang terlebih dahulu. Aswatama mengangguk mematuhi perintah tersebut dan esok harinya Sang Kumbayana atau Resi Drona mengamuk di padang Kurukshetra. Berbekal senjata Jayakunang dan ajian Laring Merak, senapati tua ini berkelebat kesana kemari menebar kematian. Melihat sepak terjang Drona, Drestajumna segera meminta nasihat Krisna.
Krisna meminta Arjuna untuk melayani gurunya tersebut. Tetapi kali ini Drona berhadapan dengan rekan seperguruannya, Prabu Drupada. Setelah bertarung cukup lama, Drona mampu mengungguli Drupada. Keris Jayakunang menancap di dada mertua Yudistira tersebut. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Drupada berucap "Aku mengaku kalah Kumbayana tapi ini tidak akan mengubah persahabatan kita". Aku akan menunggu waktu untuk kembali ke alam kelanggengan bersamamu. Waktu itu tidak akan lama. "Tertegun Drona mendengar ucapan temannya".
Setelah menewaskan Drupada, Drona telah ditunggu oleh Arjuna. Setelah menghaturkan sembah dan Arjuna memohon maaf karena akan menghadapi sang guru Drona. Mereka pun bertarung, kesaktian yang seimbang dengan senjata yang sama-sama sakti membuat keduanya bertarung tanpa ada yang kalah atau menang. Hal ini membuat gusar Sri Krisna. Dipanggilnya Bima dan berpesan majulah dan lawanlah Raja Malwapati, Prabu Permeya. Bunuhlah dia, setelah itu gajah tunggangannya yang bernama Asuratama harus pula kau bunuh. Dan sebarkan berita bahwa Aswatama telah mati. Ini yang dapat mengalahkan Drona. Para Pandawa dan prajurit juga diminta oleh Krisna untuk menyebarkan berita bahwa Aswatama mati. Bima segera menjalankan titah kakaknya.
Dalam perang tak seimbang, Prabu Permeya tewas. Segera Bima mengayunkan gada Rujak Polonya ke kepala gajah Asuratama dan berteriak bahwa Aswatama mati. Teriakan itu menggema di seantero Kurukshetra. Drona yang sedang bertarung segera menghentikan serangannya. Rasa tak percaya menghinggapi perasaannya. Tampak olehnya, si kembar Nakula Sadewa sedang bertarung. Drona bertanya pada keduanya, "Benarkah anakku Aswatama gugur?"
Nakula dan Sadewa menjawab benar, Drona belum percaya, bergegas dia mencari Yudistira yang selama ini tidak pernah berbohong. Ketika bertemu, Drona menanyakan hal yang sama pada Yudistira. Teringat pesan dari Krisna tetapi dengan hati yang tak tega, Yudistira menjawab, "Benar, Asuratama mati." Tetapi Yudistira mengucapkan nama itu dengan perlahan, dia hanya memberikan penekanan pada kata Tama. Drona salah mengira. Baginya, seorang Yudistira yang sepanjang hidupnya selalu berkata jujur telah mengungkapkan bahwa Aswatama mati.
Resi Drona segera terduduk dan termenung, lemah lunglai seluruh tubuh seakan tak lagi bertulang. Nampak dalam bayangannya, Prabu Drupada dan Palgunadi datang menjemput. Drona benar-benar tak kuasa menahan kesedihan. Hal ini nampak oleh Drestajumna yang telah dirasuki arwah Palgunadi. Drestajumna melangkah mendekati Drona yang bersandar di batu sambil menangis. Tak ada satu pun Kurawa yang menghalangi karena sibuk mencari keberadaan Aswatama yang sesungguhnya untuk dipertemukan dengan Drona.
Tanpa mengindahkan jiwa ksatria, Drestajumna berteriak akan menuntut balas kematian ayahnya, Prabu Drupada. Seketika itu pula, pedang Drestajumna menebas leher sang Drona sampai putus dan menendang-nendang kepala itu sampai ke markas Kurawa. Setelah Drona menemui ajal, seketika itu pula arwah Palgunadi hilang dari tubuh Drestajumna. Tinggal dia seorang diri menyesali perbuatannya yang jauh dari sikap ksatria, membunuh orang tua yang tak bersenjata dan tak berdaya. Krisna segera menghibur Drestajumna dengan mengatakan bahwa itu sudah digariskan oleh Hyang Wenang.
Sangkuni yang melihat kelakuan Drestajumna kepada Drona segera berlari mencari Aswatama. Ketika bertemu, diceritakanlah kejadian yang menimpa Drona dengan ditambahi bumbu-bumbu penyedap. Aswatama marah mendengar orangtuanya diperlakukan tidak ksatria. Aswatama melompat dan turun ke medan laga mencari Drestajumna.
Digengamnya keris Cundamanik dan mulai mengambil nyawa. Drestajumna yang sudah tersedot tenaganya merasa ngeri melihat amukan Aswatama dan mundur. Krisna yang mengetahui hal ini segera meminta Bima untuk menghadapi Aswatama. Segera keduanya bertarung, tapi kekuatan dan kesaktian Aswatama jauh dibawah Bima. Aswatamapun melarikan diri sambil bersumpah tidak akan mati sebelum menumpas seluruh putra Pancala dan anak turunnya yang telah membunuh orang tuanya.
Malam hari Kurawa kembali berduka, kematian Dursasana dan Resi Drona merupakan pukulan telak bagi Prabu Duryudana. Dia merasa sekarang saatnya dia untuk turun ke pertempuran. Tapi sang mertua, Prabu Salya menolak dan mengatakan bahwa masih ada ksatria lain yang sanggup menjadi senapati di Kurawa. Biarlah Adipati Karna yang menjadi senapati. Duryudana sependapat dan mengangkat Basukarna sebagai senapati perang dibantu Prabu Salya.
Karna juga meminta kepada mertuanya Prabu Salya untuk menjadi kusirnya ketika terjadi perang tanding antara dirinya dengan Arjuna. Karna yakin bahwa pihak Pandawa akan memilih Arjuna menjadi senapati menggantikan Drestajumna. Dan apabila terjadi perang tanding, Krisna pasti akan menjadi kusir Arjuna. Prabu Salya menyanggupi permintaan menantunya. Sekedar diketahui Duryudana dan Adipati Karna adalah menantu Prabu Salya. Duryudana memperistri Dewi Banowati sedangkan Adipati Karna mempersunting Dewi Surtikanti.

Posting Komentar untuk "Gugurnya Maha Guru Drona Menurut Pewayangan Jawa"