Gugurnya Sangkuni Menurut Pewayangan Jawa
Yudistira segera memerintahkan para prajurit Pandawa untuk mundur, karena baginya, sudah tidak ada lagi yang harus diteruskan. Kurawa telah habis, menyisakan Patih Sangkuni, Duryudana dan beberapa orang prajurit. Sebelum bisa mundur, Sangkuni telah mengamuk, mengobrak-abrik para prajurit Pandawa yang tersisa.
Amukan Sangkuni terlihat jelas oleh Krisna dan Bima. Sangkuni sesungguhnya adalah manusia yang kebal terhadap segala macam senjata, karena ketika terjadi perebutan cupu Cundamanik dan minyak Tala antara dirinya dan Dorna membuat minyak Tala itu jatuh dan berceceran. Sangkuni segera berguling-guling untuk membasuh tubuhnya dengan minyak tersebut. Tapi ada satu bagian yang terlewat, yaitu duburnya. Krisna mewanti-wanti Bima akan hal ini.
Segera Bima melompat, menghadang gerakan Sangkuni. Dengan sekali kelebat, leher Sangkuni terpegang oleh Bima. Segera diangkatnya kepala Sangkuni sampai salah satu kakinya naik. Tanpa pikir panjang, ditancapkannya kuku pusaka Pancanaka ke dubur Sangkuni. Sang patih pun menjerit mengiringi kematiannya.
Tak cukup sampai disitu, Bima segera menguliti Sangkuni untuk memenuhi sumpah Dewi Kunti ibunya. Ketika itu, Sangkuni melecehkan Kunti sampai kembennya melorot dan menjadi tertawaan para Kurawa. Saat itu, Kunti bersumpah tidak akan berkemben sebelum menggunakan kemben yang terbuat dari kulit Sangkuni. Kulit Sangkuni ini diserahkan Bima kepada ibunya untuk mewisuda sumpahnya.
Malam hari Pandawa berkumpul di pesanggrahan. Meski kemenangan telah diraih tapi ini tidak membuat wajah mereka berseri kegirangan. Karena kemenangan ini mereka raih diatas darah saudara-saudara mereka sendiri. Tinggal satu Kurawa tersisa, Prabu Duryudana. Dan satu lagi yang sekarang entah berada dimana, yaitu Aswatama. Krisna meminta bantuan kakaknya Prabu Baladewa untuk mencari keberadaan Duryudana dan merayu agar menyudahi peperangan.
Singkat cerita, Duryudana memang berwatak keras dan tak mau dikalahkan. Dia tetap tidak mau menyerahkan Astina pada Pandawa. Dia berfikiran, semua saudaranya telah mati, jadi untuk apa hidup. Duryudana meminta kepada Baladewa agar diadakan tanding melawan Pandawa yang memiliki kekuatan dan tubuh seimbang dengannya, yaitu Bima. Dan saat perang tanding dimulai, dia meminta Baladewa dan Krisna menjadi saksi.

Posting Komentar untuk "Gugurnya Sangkuni Menurut Pewayangan Jawa"